Selasa, 23 Juli 2019

6 PELAJARAN HIDUP DARI FILM TOY STORY 4



Kita tidak perlu mencicipi semua kegagalan yang ada karena dengan belajar dari pengalaman kegagalan orang lain, kita bisa mengambil hikmahnya untuk diri kita. Begitu pula halnya dengan sesuatu yang baik pada diri orang lain dapat kita teladani dan aplikasikan dalam hidup kita. Tak perlu melulu dengan hal yang wow, bahkan dengan film yang kita tonton, misalnya film toy story 4 yang rilis pada juni lalu mengandung hal-hal implisit yang baik untuk kita lakukan. Apa sajakah itu ?

1.     Membantu tanpa pamrih
Dari scene awal, woody sebagai sheriff dan seorang ketua berupaya untuk mempertahankan eksistensi semua mainan yang ada di rmh bonnie, mendukung forky (mainan garpu pendatang baru) yang sukses mencuri perhatian bonnie, membuat bonnie kelimpungan jika tak bersama forky. It is like.... make me cry when you help people and it is okay if they don’t know you even if no thank as return. Karena life must go on. Woody tetep menjalani kehidupannya dan juga akan menemui takdirnya sendiri. Helping tadi Cuma sekelumit kisah perjalanan. Berbuat baiklah selagi bisa.

2.     Overthinking is not good but funny
 Ini adegan yang paling lydia suka. Ketika dua boneka mikir keras cara buat dapetin kunci lemari : mulai dari cara barbar, ambil paksa, sampai sabar banget ngikutin nenek pemegang kunci sampai ke rumah, eh ternyata mereka bisa dapetin dengan gampang – si nenek Cuma ngeletakin kuncinya gitu aja di rak. Wkwkwk. See? Sometimes no need to do overthinking even takutnya malah ngga jadi action, kelamaan mikir.

3.     Teamwork
Tanpa kerjasama tim yang jemput forky dan tim yang standby di mobil, this film won’t go to happy ending. Drama banget tapi seru. Intinya sih harus ada kata percaya, put effort dan keep solid.

4.     Percaya dengan ketua
 Ada adegan dimana woody main tunggal. Pressure dari bonnie yang udah nyampe di toko barang antik, dan pengen segala sesuatunya serba cepat serba kelar. Pengen cepat ambil forky  dan ngasih ke bonnie tanpa ngikutin kesepakatan awal yang sudah dibuat boo. Daaan yah karena buru-buru malah jadi boomerang untuk woody bahkan membahayakan orang lain. Hampir aja mereka ketangkap ajudan gabby (boneka jahat yang menginginkan kotak suara woody). So, intinya.... spontanitas memang perlu tapi try to stick with the rules first, trust on your chairman too. Karena dia yang paling paham kondisi di lapangan dan it is responsibility of the chairman juga, jadi kalo ada apa2, kan ketuanya juga yang repot.

5.     Be yourself, trust your inner voice
Ada tokoh yang namanya kabum (pengendara motor dari kanada). Dumped by rejaan (pemiliknya) hanya karena ngga lompat setinggi di commercial break aka iklan. Kabum, ketika dibutuhkan timnya, awalnya dia takut, but he wanna prove that he can, dia gas aja, coba aja, mencoba jadi dirinya sendiri, pengendara yang bisa lompat 12 meter. Ofc ini Cuma film animasi, but still,.. please do not betray yourself dengan bilang ngga bisa dan ngga mampu. You strong and you can. Itu yang mau disampaikan film ini.

6.     People may come and gobut the best will stay
 Dimulai dari flashback awal bo yang pindah, lalu setelah 7 tahun terpisah baru dipertemukan kembali secara tak sengaja. Ketika bertemu, banyak hal terutama kemampuan bo dalam mengkoordinir wilayahnya meningkat dengan baik. See? Jadi dimanapun kita berada, make sure we grow up. Lalu at the end, woody ngga sama-sama lagi dengan buzz, kepemimpinan dialihkan ke jessie dan woody memilih untuk bersama bo. Semua pihak kayak rela dan ikhlas gitu because trust the choice. Because they are best friends and that’the point of friendship. I mean.. look at them.
-           They fight for love : following bo
-           Choose to move karena more kids will be entertain later. While at boonie house anaknya sebiji doang.
so, please choose your happiness: ke tempat dimana org2 neeed you the most, bisa contribute lebih banyak. Semangat untuk para pejuang kehidupan!





Kamis, 11 Juli 2019

POEM - PART 2

KETIKA MUNDUR BUKAN OPSI


Sampai kapan kita bertahan dengan bait2 idealis kita?
Adakah terpikir utk menarik garis khayal lalu beranjak menuju kenyataan ?
Duri2 ekspektasi bahkan belum tercabut dari diri,
Kemana harga mati yg dlu kita deklarasikan?
Kemana mimpi yang dahulunya kita gantungkan?
Kemana benih optimisme yang kita tanam?
Mungkin hilang, tapi bisa jd bersembunyi
Dimana?
Jauh dalam sanubari atau hilang dicuri?
Aku tak tau
Tapi yang pasti
Impian itu sebenarnya tak berpendar
Hanya mungkin butuh dicabar
Butuh sabar, butuh radar
Setakat demi setakat kita pasti sampai
Cepat atau lambat kita kan berlabuh
Tugas kita hanya berjalan
Sampai kapan?
Sampai daftar mimpi kita menjadi realitas


(Puisi ini ditulis di titik putus asa antara maju memperjuangkan diri sebagai scholarship hunter dan pencari kerja freshgraduate)



MALAM MENJELANG


Setiap malam memang begini

Ratusan gerobak
Ribuan kendaraan
Jutaan orang hilir mudik
Sebagian ingin terhibur
Sebagian menjadi penghibur
Sebagian berjualan
Sebagian menjajakan jasa
Sebagian menjadi pembeli
Sebagian halal
Sebagian haram
Intinya selalu sama.
Selalu seputar 2 hal.
Berpikir bagaimana mencari pundi2 rupiah
Dan
Berpikir bagaimana cara menghabiskannya


HANYA AKU


Kamu tahu?
Hari ini bagiku rasanya berat dan melelahkan
Baru hari ini kusadar dan...
Sumpah aku takut
Karena ternyata dunia nyata begitu mengerikan
Sumpah aku gemetar
Karena utk mendapat rupiah harus dengan cara yg tak etis
Sumpah aku terhenyak
Karena harus menghadapi semuanya seorang diri
Benar2 sendiri
Kamu kemana?
Disaat begini
Bisa2nya kamu pergi
Meninggalkanku yg harus berjuang berdiri dan bertaruh mati
Kamu...
Adalah kenangan yg kini kuanggap hanya ilusi

LKI
Pekanbaru, 12 Juli 2018


KUAJARI CARA MENIKMATI

Ini tentang cara menikmati
-dijilat, digigit, diputar, dicelupin-
tak masalah

Hanya karena berbeda, 
Tak lantas membuat sengsara
Tak jua mendikriditkan selera
Tak perlu pula jemawa
Tak butuh perkara dibesarkan
Toh lagi-lagi tak membuat lebih benar

Lagi-lagi
Ini tentang cara menikmati
Asal senang, ya sudahlah
Sejatinya hidup ini muaranya pada bahagia, bukan?


Bukit Datuk, 16 Mei 2019

Lydia Kusdyanti Iasya





Rabu, 26 Juni 2019

POEM-PART 1


CAHAYA QALBU
KARYA : LYDIA KUSDYANTI IASYA

Akan ada satu waktu,
Dimana penat berganti rindu
Dimana bosan berganti gairah
Dimana lelah berganti pasrah
                                                                                       Karena derap langkah semakin melambat walau hati berharap
                                                                                        Ya, hatinya telah tertambat
                                                                                       Pada tubuh-tubuh mungil disana
                                                                                      Dan suara tangis yang bersahut bergantian
Katanya, mereka obat hati,
Bisa juga pelipur lara
Atau penawar kesendirian
Dan pengoyak kesunyian
Duh, menggemaskan!
Tak sabar memiliki mereka seutuhnya
Mengajarinya..
Meninabobokannya..
Tapi pada masa ini
Biarlah aku sendiri
Hingga nanti petualangan berganti

Pekanbaru, 2 Agustus 2018





Delusi
Karya : Lydia Kusdyanti Iasya


Dia ada
Tapi tak tampak
Dia ada
Tapi jauh
Dia ada
Tapi tak tersentuh
Dia ada
Tapi lagi-lagi tak tampak
                              Namanya : FaTaMoRgAnA
                              Dia.....kekasihku



                                                             Pekanbaru, 3 Agustus 2018





Antara Jum’at, Hujan, dan Kemerdekaan
Karya : Lydia Kusdyanti Iasya

Sejak 73 tahun yang lalu
Ada 1 hari dalam 12 bulan
Pernak pernik dominasi merah putih
tak pernah absen
Cermonial juga tak pernah ketinggalan
Selebrasi lomba apalagi
Dan...
Meski ibu pertiwi belum bisa sepenuhnya berbangga diri
Namun setidaknya setelah evaluasi
Maka apa yang kita yakini
Adalah pencapaian butuh diapresiasi
Untuk jadi motivasi
Dan cambuk berinovasi
Untuk lebih baik lagi
Ya, untuk Indonesia yang lebih berprestasi
Lebih berani
Dan makin dicintai

Salam sayang,
Rakyat Indonesia




Nasib, Nasib, Nasib
Karya : Lydia Kusdyanti Iasya

Apa memang begini takdir kaum wanita?
Diberi harapan palsu, lalu disakiti, kemudian ditinggalkan
Aku penasaran tentang....
Seberapa besar rasa cinta Adam dan Hawa?
Mengapa Adam rela mencari Hawa di sepanjang hidupnya?
Mengapa Hawa mau bersusah-susah ingin menemui Adam?
Jika jawabannya karena cinta,
Mengapa kami cucunya tak bisa?
Tak bisa merasa dicintai dan dipahami sebagaimana yang diingini




P.R.O.S.E.S
Karya : Lydia Kusdyanti Iasya

Mengendap-endap
Lalu berbisik-bisik
Dan akhirnya tertawa-tawa
Tau aku apa itu
Cibiran tajam
Sindiran halus
Jelas mengintimidasi
Mereka bilang...
Aku budak tak guna
Mereka bilang...
Aku tak punya apa
Mereka bilang....
Aku nestapa
Nyatanya mereka lupa
Memetik bintang perlu roket
Memetik mangga butuh kau panjat
Memetik sukses butuh proses!



       Pekanbaru, 3 Agustus 2018



Patah dan Tak Terarah
Karya : Lydia Kusdyanti Iasya


Karena menjatuhkan hati kepadamu adalah awal dari suatu kesalahan
Karena memberikan hati tanpa pamrih adalah awal dari suatu kebinasaan
Karena bertemu denganmu adalah awal dari hancurnya pikiran
Karena mengenalmu  bisa semana-mena mengubah prinsip dan tatanan
Karena cintaku seharusnya tak boleh kubagi padamu yang buruk dalam memperlakukan
Karena kini kuharus membangun kembali apa yang telah rusak berantakan
Karena dayaku sebenarnya tak sekuat kharismamu yang mampu meluluhlantak dan memporakprandakan
Karena sekarang apalah aku tanpa dirindukan



Pekanbaru, 6 Juli 2018



SEPERTI KAKESU PULANG KE PETANG
(Puisi disadur dari cerpen karangan Bagus Dwi Hananto)

Antara Tokyo dan Kyoto...
Disitulah Nahoko dan Taro
Terjebak dalam klisenya kata ‘cinta’
Dan balada dibalik nostalgia

Antara Tokyo dan Kyoto...
Disitulah Nahoko dan Taro
Momiji jadi saksinya
Betapa besar ganjaran cinta segitiga

Tentang Nahoko dan Taro, lagi...
Hanya kali ini kisahnya kubagi
Bahwa setia tak membantunya
Meski mendamba namun gagal membawa

Karena pada akhirnya...
Yang memiliki cinta paling dalam
Yang memiliki rasa paling tinggi
Yang memiliki angan paling jauh
Dialah yang relungnya kan menganga



Meneteskan darah dari luka hati yang patah
Meninggalkan masa depan hingga tak terarah
Meremukkan rusuk menjadi remah
Menggagalkan delusi yang ingin memanah
Dan membuat sakura tersenyum marah

Taro-nya malang
Sementara Megumi dan Nahoko terlonjak riang
Memaksa memori Taro untuk dibuang
Meski sebenarnya ia adalah pemenang





                                                                           LYDIA KUSDYANTI IASYA




KEBAL PROTES
Karya : Lydia Kusdyanti Iasya

Kalau protes tak pernah digubris
Kalau kritik selalu ditampik
Kalau saran malah dikira beban
Kapan akan ada perubahan?
Kapan keluar dari zona nyaman?
Kapan mau belajar dari kesalahan?
Kapan ingin berbenah untuk masa depan?
Katanya ingin terdepan
Tapi yang dilakukan mematikan harapan

Jumat, 29 Maret 2019

OUT OF COMFORT ZONE - SIMPANG KANAN

Tepat 29 siang, malam, dan hari terhitung sejak 1 Maret menginjakkan kaki di Simpang Kanan, daerah perbatasan Sumatera Utara.
Betah?
Tidak juga
Sesekali rindu dengan gerimis manja
Martabak mesir yg tiap pekan, tengah malam, rela kuantri di boffet Jl. Paus
Hangatnya teh tarik dan temannya, roti canai di banyak tempat
Eeh makan aja rindunya ya :)
Itu baru sebagian rindu
Sebagian besarnya merindumu
Rindu ingin bertemu
Uwuwuwu
Dasar aku
Pas ketemu malu2
Tak jarang bersiteru
Pas sudah pergi
Baru merindui

Tenang...
Banyaknya aktivitas
Dari yang faedah sampai unfaedah
Bisa mengobati rindu itu
Pelan pelan :)
Banyak juga hal baru dan hal yang lama terpatri di niatan dan baru kulakukan
Belajar jadi menantu idaman,
Misalnya.

Meskipun jaringan dsini senggol angin langsung tenggelam, meskipun mall bahkan selevel indo*aret tiada, meskipun jalan dsini tanah berlubang berbatu berdebu; Bertahan adalah satu2nya pilihan
Walau di awal tak luput dari respon begini :
Menelan ludah, jerit dalam hati, sambil bernyanyi :
"Pulangkan sajaa, aku pada ibuku, atau ayahkuu~~"

Penduduk dsini
Juga bukan main ramahnya
Baiknya
Dengan logat Jawa Medan yang kental,
Ngobrol sama para ibu disini jadi beda
Ya walaupun 50% topik pembicaraan dapat label not responding di kepalaku
Yang bicarain si ini lah, si itulah
Which is gue ngga tau orgnya yg mana -_-

Satu hari sebelum tulisan ini kubuat,
Kusadar 1 hal
Penduduk disini
Nyatanya mampu bertahan;
Dari jauhnya perkotaan
Dari sinyalnya yg gelagapan
Dari kurangnya tingkat keamanan

Bahkan
Sampai beranak cucu dsini
Lalu kenapa berpikir bahwa aku tak mampu hidup di tempat yang sama ya?
Satu hal yg kulupa
Hidup mereka adalah ladang mereka
Itu yang buat mereka bertahan
Itulah alasannya!
Tak ingin pindah
Karena inilah hidup mereka
Sawit = their life
Logis sudah semuanya
Terlepas dari cerita naik turunnya harga, toh mereka tetap panen 3 kali sebulan.

Lantas,
Apa alasanku bertahan?
Jika mereka dengan LADANGNYA
Lalu aku dengan SEKOLAHKU
Jadi tenaga pendidik
Nah, apalagi yang membuatku ragu?
Sementara inilah hidupku
Sekolahku = kehidupanku
Selamat datang di NEW CHAPTER OF MY LIFE!!

I will accept this as CHALLENGE, ngga akan nyerah dengan naughty these students, iso tanggung jawab sebagai ASN, pengabdi negara dan hamba Allah yang tentunya dimintai pertanggungawaban di akhirat. 

Seorang sahabat mengatakan,
"Kamu bisa aja kerja ala kadarnya. Benar, tetap dapat gaji. Tapi apa cuma itu yang ingin kamu dapatkan? Alangkah baiknya kamu juga dapat berkahnya. Karena usaha yang maksimal akan kembali pada yang mengusahakannya. Insya Allah" :)

FIGHTING!

With love and commit,


Lydia Kusdyanti Iasya, S.Pd

Ruang Majelis Guru
SMKN 1 SIMPANG KANAN
Simpang Kanan, 29 Maret 2019


GALERI PERJUANGAN























Minggu, 27 Mei 2018

BUKAN SEKEDAR WACANA, BUKAN HANYA RENCANA, KARENA KAMI SANG PENGELANA...




Finallyyyy...

Pembicaraan ngalor ngidul di grup E-Gen on Vacation dari bulan November 2017 berbuah manis. Ngga terasa, udh ngerencanain 6 bulan yang lalu tapi gue packing baru pagi2 di hari keberangkatan (LOL). Berbekal tiket promo Air Asia (diulangi : tiket promo. Perlu dicatet, ini tips pertama jalan2 low budget, cari tiket promo! Jgn sok2an cari tiket mewah ala2 Garuda Indonesia), trip pertama yg terdiri dari gue, Uung dan Agus berangkat ke KL jam 12.30 WIB 20 May 2018. 

In waiting room (sebelum sadar tas camera Agus ketinggalan di mushalla)

Alhamdulillah hujan
Berkah sebelum berangkat, hujan turun ntah berapa liter. Sampe di KL, langsung aja kita2 cus ke KL Sentral. Berhubung akika belum tukar duit rupiah ke riggit, jadilah kita orang nyari money changer di Mall NU Sentral. Sekalian beli paket internet. Bah, muter2 nyari paket ini. Jodoh ngga kemana, akhirnya nemu paket Telkomsel, eh, ngga ding, paket Red namanya. 6 GB 45 RM. Sekalian beli novel titipan Indah di MPH Bookstore.
Di depan toko buku (akhirnya nemu MPH yang pindah dari bandara)
 Jam juga waktu itu udah nyentuh angka 6, perut udh sakit gegara ketawa2 tambah kondisi puasa. Celingak celinguk kesana kemari pengen beli bukaan puasa, tempe tahu goreng di Warung Ayam Penyet benar2 menggoda. Bukan apa2, harga yg paling murah ya itu, haha. Sayangnya bukan rejeki, tempatnya yg ternyata udh full reserved membuat kami tetap berjalan dengan langkah gontai ke pintu KFC.
9 RM ni cuyy
 Dengan raga yg full energy dan excited 100%, perjalanan dilanjutkan ke Countdown Clock (Kereeen. Kayak Air Terjun warna-warni gtuu), KL Tower (ya walaupun liat dari jauh doang), dan Dataran Merdeka (akhirnya setelah lama ngiri sama Joni dan Mbak Youwen yg udh foto duluan disini, gue bisa juga menginjakkan kaki di halaman Dataran Merdeka yg byk org jualannya, ada byk bendera sama ada sampah juga. Err...ngga ada kesan yg lebih baik ya? Wkwkwk). Puas foto2, perjalanan ke TBS (Terminal Berpadu Selatan)  jadi momen yang ngga bisa dilupain!
Pict by Agus
DATARAN MERDEKA!
We're here

In front of Dataran Merdeka

In front of Countdown Clock

Bayangin, jam sudah hampir tengah malam dan untuk sampai di TBS, kereta Rapid KL mengharuskan transit beberapa kali. Gila. Lari2an, naik turun tangga, nanya2 ke warga sana macam anak ilang tapi alhamdulillah nyampe jugaa anakmu ini dengan selamat maaak. Untung juga ada 2 bodyguard keren (Uung dan Agus), kalo ngga, gue pengen nggembel aja di bawah tangga, soalnya udh ngantuk dan lelah adek baang, huhu... Tapi disini bisa diambil hikmahnya kalau kita terus berjalan, terus usaha, insya Allah bakal dpt, bakal nyampe ke goal yang mau dicapai. Dah kayak om Mario Bros belum gue? Muehehehe...
Ini muka lega setelah dapat train, hahaha

Di stasiun. Udah kayak di Japan belum?

New thing for me : scan dan masukkan koin utk passing gerbangnya. Norak tapi yasudahlah (:
Sampai di TBS, kita ngisi perut lagii di Nasi Iskandar (Indian Cuisine). Kata Agus, ini nih makanan 4 sehat 5 sempurna. Fine~ Ntah udh jam brp dan ntah gmn ceritanya, bisa2nya ketiduran di minimarket sambil ngecas dan setelah khatam 1 halaman buku IELTS, wkwkwk. Oh iyaa, makasiiih byk buat Uung yg begadang karena ngejagain brg2 kitaa. Saranghaeee..
Sip, esoknya, sahur seorang diri dgn nasi porsi kuli dan abon diatasnya fix jd menu pagi itu. Langsung aja habis itu berangkat ke Melaka jam 7 dan sampai jam 9 di Melaka Sentral. Lama juga menunggu bus Panorama ke pusat pariwisata Melaka (Makasiih buat kuya Joni yg gue telponin bolak balek utk nanya rute transportasi kesana).
Nyampe di Melaka (huhu terharuu ngga nyangka bisa balik kesini lg setahun kemudian setelah event Malaysia Debate Open last year. Allah Maha Kuasa J), berburu foto2 dimulaiii. Pertama foto di Jam Gadang (haha, ntah apalah itu namanya), trus foto di Jonker Walk, di depan Hard Rock Cafe, di depan mural2 cantiq sampai mermet tak berdaya tergeletak di bawah pohon. Letih, katanya....
Tapi pemandangan Sungai Melaka dengan bonus oppa oppa dan eonnie eonnie Korea jd moodbooster ngelanjutin trip ke Surau Warisan. 
Senangnyaaaa








Den Haag ala2

Shalat Zuhur disana sambil tidur bbrp menit, lalu caw ke Melaka Straits Mosque (Soalnya envy sama team Japan yang tahun lalu kesini ngga ajak2 guee). Oh iya, sebelum naik grab car, gue ditanyain sama bpk2 polisi setempat.
Pak Polisi : Mau kemana dek?
Gue : Ke Melaka Straits Mosque, pak
Pak Polisi : Jauh tu, pakai grab la. Sendiri je? Brp umur?
Gue : Tak lah, pak. Bertiga, sama kawan. Tebaklah pak umurnya.
Pak polisi : 8 tahun?
Gue : (Jiaah)  -_-
(tak lama kemudian dtglah si Uung dan Agus)
Pak Polisi : Boyfriend tu?
Gue : Haha, tak lah pak.
Pak Polisi : Tidur berasing2 kan?
Gue : (wkwk, diinterogasii nih) Haha, iyalah pak.
Pak Polisi : Ha bagus tu.
(Brumm.. grab car datang sebagai penyelamat dari interogasi panjang. Fiuuuh. Oh iya, btw pak polisi nya bisa bahasa Jawa jugaa, wkwkwk. Sayang ngga sempat foto2 karena baterai low klo ngga salah. Ini nih tips kedua gengs : JANGAN SAMPE HP LOW BATTERY. Bawa power bank yg banyaaak).
Matahari yg rasanya bbrp jengkal diatas kepala membuat kami cepat2 masuk Masjid Selat Melaka (Masya Allah masjid nya cakep, letaknya diatas laut, adem pula suasananya). Disini kawasan berbusana muslim yang mengharuskan semua wanita pakai jilbab. Mereka ngga main2 sama peraturan ini, makanya nyediain berlusin2 baju dan jilbab longgar utk para pengunjung masjid non-muslim. Salute!
In front of Melaka Straits Mosque aka Masjid Selat Melaka




Kaaan diatas lauuut

Udah kayak anak ilang belom? Wkwkwk

Go back to TBS!

Sempat ketiduran bbrp saat sebelum jiwa kembali lagi ke raganya, ba’da ashar kami balik lagi ke Melaka Sentral dan akhirnya ke TBS buat ketemu rombongan trip kedua (Tere, Eri, bang Nan). Telat berbuka puasa, tapi kalio daging dan udang seharga 9 RM benar2 memuaskan lidah. Ditambah icip2 jajanan jalanan yg lucu2. Kenyang, senang, dan uang 29 RM jd modal melanjutkan perjalanan menggunakan bus bertingat (mantap djiwaa, nyaman, bisa sambil ngecas dan meluruskan badan) ke Pulau Penang jam 00.00 waktu setempat. Berhubung kami holiday pas Ramadhan, jd sekitar pukul 5 di SPBU sana kami makan sahur. Nah,  sebelum benar2 sampai di pulau Pinang, kami diharuskan nyebrang dengan menggunakan kapal Ferry. Pemandangan pagi diatas laut itu... semilir angin dan kerlap kerlipnya lampu gedung di seberang laut, ditambah gemericik air lautnya itu....benar2 sesuatu...
Street Food

Menunggu kamu. Eh. 

Voilaaa

Paginya, setelah sadar belum shalat subuh meski waktu subuh udh lewat, gue dan Eri nekat manjat jendela utk masuk ke mushalla soalnya pintu besinya di gembok, wkwkw. Setelah tertawa riang dengan crime yg dilakukan, dua orang bpk2 menegur kami dan menunjukkan ternyata ada jalan tersembunyi utk ke mushalla. Bukan menegur karena marah, tapi jelas2 khawatirnya beliau sama anak gadis manjat2 jendela mushalla. Ntar lututnya datau kepala pecah gmn dong?! Haa mungkin gtu yang bpk tu pikirkan and worried about us. Huahaha..
Siap utk baca cerita selanjutnya?
Jeng jeng jeng.....
Saking asyiknya Tere video call sama kawannya, gadis yg menunggu diwisuda itupun ketinggalan bus CAT. Sempat mengejar bus dengan tatapan “Tunggu weee”, akhirnya bertemu kembali di perhentian bus selanjutnya. Ckckck, dasar Aing Maung (?).  Kejadian ini sempat jd trending topic selama nge-trip dan dipopulerkan oleh bang Nan. Letih mencari mural2 cantik, kami titipkan dahulu barang2 bawaan yang beratnya diatas 5  kg ini di Kimberley House, hostel dengan bayaran 64 RM. And then, kita orang ngadem di Mall Prangin dan terjadilah transaksi pembelian tas oleh si Agus. Lama memilih, akhirnya pilihan itu jatuh ke tas berwarna biru. Buat adiknya, katanya. Sip, jalan lanjutt lagi ke Kek Lok Si Temple. Candi Buddha landmark nya Pulang Penang.  Setelah menaiki bbrp puluh anak tangga, sampailah di atas dan (lagi) berfoto ria. Sambil buat video happy milad kak Maya, kita juga nikmatin pemandangan yg ngga kalah cantik sama gue. Eeeeh (*ditimpuk pke uang ringgit*). Eh tapi beneran, pemandangan candinya mirip pagoda yang ada di Thailand dan view street di dpn nya mirip Jepang deh. Pulang dari sana, gue yg ngidam Subway dari kemarin alhasil beli sebiji dan karena rejeki anak shaleh juga, kita dpt bukaan gretong di Masjid Jamek Prangin. Bpk2 yang serve kami ituu baek bgtt. Bahkan pulangnya kami masih disanguin nasi buat sahur. Semoga Allah balas dengan balasan yg terbaik yaa pak. Ada rasa haru juga punya saudara sesama muslim yang ngga sungkan2 menolong dan berbagi sesama. Alhamdulillah, berkah ramadhan.

Epic!

In George Town

Waiting for my future :)
Orang Ketiga (Nuhun numpang lewat atuh)
At Mall Prangin, Penang


Mural














Kimberley House

Still at Kimberley House


Kek Lok Si Temple

We Love You, E-Gen


Udah kayak pagoda di Thailand belum?

Yeaayy

OMG

On how Chinese architecture are blending with its sociey till now

Ndeh, belum ready atuh

We (me and the view) are BEAUTIFUL 

At Penang

Ngga tau cara rotate nya, hiks

AING MAUNG GRUP
Makasih makanan Iftar nya pak :)

Malam itu juga pukul 00.30 setelah ambil barang di Kimberley House, kami bertolak ke KL Sentral dengan bus 35 RM. Kembali meletakkan barang di loker dengan bayaran 50 RM, perjalanan dipagi itu dimulai dengan mengunjungi Batu Caves (Patung Buddha berwarna emas). Salah satu tempat wajib yang hrus dikunjungi wisatawan klo ke Malaysia, nih. Untuk sampai ke goa diatasnya, kami hrus menaiki 222 anak tangga. Gue pribadi ngga ngerasa capek, loh. Ada rahasianya, soalnya wkwkwk..
WE ARE AT BATU CAVES!









Siip, jalan2 udah, sekarang saatnya berburu oleh2 di Pasar Seni / Central market. Somehow, pas belanja2 di craft2 unyu2 disana, we are lost! Lydia, Agus, dan Eri, sementara yg lainnya Tere, Uung dan bang Nan. Bukan apa2, kami Cuma khawatir ngga bisa menghubungi satu sama lain karena baterai hp kami bertiga udh sekarat semua. At th end, belanja2 di MyDin dan shalat di masjid India, juga makan kwetiaw jalanan terlaksana sebelumbertemu kembali komplit semuanya di Texas Fried Chicken sambil makan es ditraktir Eri yg ngidam makan Vanilla Ice Cream dari kemarin. Alhamdulillah J

I wanna go theeereee

Right before lost, haha

Setelah perjalanan panjang, kami langsung saja ke bandara KLIA 2. Di perjalanan bus, kami ketemu sama 2 orang abang dari Indo. Yang satu dari Aceh, satu lg dari Semarang. Mereka backpacker juga. Live while we’re young!
Dapat pencerahan juga dari abang2 ini kalo setelah freshgraduate, langsung ambil master degree aja, jgn kayak abag itu yg ambil PPG. Kaaan jd semangat lg utk S2 whehehe.
Esok paginya, gue berburu view pagi di bandara sebelum kembali ke tanah air. Di waiting room, kita juga ketemu sama Pak Supriusman dan istri beliau (dosen Statistika yang buat gue anehnya semakin mempelajari ilmunya, gue ngerasa makin stupidd hiks).
Browsing di warnet dlu, wkwkw

Back to real life~

Thanks Air Asia

Weeew. 50 menit dari bandara KLIA 2 ke bandara SSK II ngga terasa dan on how these unforgettabe memories will be lock in my mind foreveeeer!!!!





24 May 2018