Philippines, May 21, 2016
Malaysia, May 22, 2016
Yakin dengan schedule tour ria di Manila, saya sudah wanti2 otak saya untuk bisa bangun pagi ini meskipun gravitasi diatas kasur kuat bgt.
Udh
dalam outfit yg ready-to-go, saya nungguin rekan2 lain (Isabelle dan
Isa : 2 orang Filipino yg sudahlah bangun telat, kehabisan odol, lama
pula bersoleknya, Elly : warga negara Cambodia yg betah bgt di kamar
mandi, dan Charis Chan : org Malaysia yg dari subuh sibuk ngotak-ngatik
kamera DSLR warna pink miliknya yg sumpah keren bgt!).
Sekitar
pukul stgh 8, kami turun ke meja resepsionis menggunakan lift guna
melakukan check-out. 15 menit berlalu, kami dijemput becak (kayaknya
becak yg tadi malam juga antar kita ke apartemen). Sip, semua barang
sudah diangkat ke atas becak. Dengan membayar 20 peso (kalo ngga salah),
kami diantar ke Jollibee utk sarapan. Sementara yang lain makan aneka
makanan khas fast food, saya dgn semangat '45 menyesap hot chocolate yg masih amat panas itu dgn perlahan hingga tetes terakhir, sementara Joni (lagi lagi) hanya minum 2 teguk dari isi cup hot chocolate. Dah sah lah budak tu jadi kawan setan kan? Mubazir selalu..
Ingat
dengan isi dompet yang persediaan uang pesonya sudah makin menipis, kami
ditemani dengan Immanuelle Isa (kakak Isabelle) bergegas ke money
changer di seberang jalan. Saya yang sudah megang dompet dengan eratnya
(karena Isabelle dan kakaknya bilang byk jambret disini. Sama yak kayak
di Indonesia. Banyak kriminalitasnya. Waspadalah...waspadalah...),tiba
di kios yang ada terali dan boneka berwarna hijau didalamnya. Disambut
dengan nenek2 yang punya itu money changer, saya awalnya ingin
menukarkan uang Rp 350.000,- ke dalam mata uang peso. Namun setelah
dihitung-hitung (dengan sangat cermat), hasil penukaran kurang
menguntungkan. bisa dikatakan setengah nilai tukarnya dari yang biasa
kita tukar di Pekanbaru. Ngga tukar sama sekali ya ngga bisa juga,
makanya saya cuma tukar Rp 150.000,- saja (mengingat hari ini adalah 1
hari extra diluar perkiraan dan akan jalan2 plus pastinya menghabiskan
biaya, bukan?).
Melanjutkan perjalanan dengan
menggunakan mobil yang mirip mobil travel, kami menuju area Manila Tour.
Di sepanjang perjalanan, saya terkesan dengan pusatnya kota Manila.
Bayangin, di pinggir jalanan kota metropolitannya Manila, terbentang
lautan dengan puluhan kapal boat. Jv bilang, byk turis yang kesini untuk
menyaksikan sunset. Saya yang sunset lover cuma bisa angguk2 pasrah,
belum berkesempatan menyaksikan sunset disini karena jam 5 sore kami
sudah harus berangkat. Tapi tak apa, pemandangan menarik lainnya masih
banyaaak..
Berhenti di depan Manila Chatedral,
gereja dengan arsitektur khas benua Eropa yang indah bgt ditambah
lapangan hijau serta perpustakaan unik di depannya. Usai foto2 di tempat
ibadah orang, kita naik ke sebuah delman (Ya ampun, transportasi apalagi
coba, yang belum dinaiki disini. Jeepney udah, becak udah, mobil travel
udah, delmanpun udaaah sodara sodaraa. Seingat saya, itu kali kedua
naik delman setelah sebelumnya naik delman di Bukittinggi).
Tuk
tik tak tik tuk.. begitulah suara kaki kuda yang membawa kami sepanjang
"Manila Tour". Dengan bahasa Inggrisnya yang fasih, pengendara kuda
sekaligus tour guide tersebut menginformasikan mengenai gedung2
yang kami lewati. Di area tersebut keliahatannya banyak universitas2 tua
dan bersejarah. Turun sebentar di tempat yang didalamnya ada air
mancur, sumur tua, dan tempat souvenir, kami sibuk mengabadikan diri dan
momen di tempat tsb. Saking asyiknya, kami (saya, Rattanak, dan Joni)
teerpisah dari rombongan. Hahaha... Nasib baik kami bertemu lagi dengan
rekan2 lainnya di seberang gedung.
Naik delman lagi,
hingga sampai di tempat peninggalan Perang Dunia II. Dinding batu dan
lantai bata jadi saksi bisu betapa ngerinya perang tersebut pada
puluhan tahun silam. Tak jauh dari tempat tersebut ada taman kota yang
cantiiiik dan full of peace dengan kolam ditengahnya. Selain itu, ada
juga galeri ornamen wajah presiden Filipina pertama hingga sekarang. O iya, area ini bernama Intramunos Park.
Lanjut,
kami ke tempat PD II lainnya. Meskipun udah bolak balik melototin peta pusat kota Manila itu, tetap saja saya tidak tau apa nama tempat ini. Yang pasti, beda dengan tempat yang pertama, tempat ini
dipenuhi dengan meriam bom. Ketika disini, banyak orang (yang saya yakin
anak jurusan arsitektur) sibuk mengerjakan tugas mereka lengkap dengan
atribut : barang yang mirip tripod dan kertas ukuran A3 digelar disana
sini. Yak, untuk dapat angle yang bagus, saya rela manjat2 sampai diatas meriam.Cekrek cekrek..
Good,
sekarang kita melaju ke National Museum of Philippines. Sebelum masuk
ke dalam museum, kita turun dulu dong dari delman. Bilang makasih ke
tour guidenya, dan pastinya bayaaar. Di awal2 tadi kami sepakat bayar
200 peso. Tapi ternyata bayar extra 100 peso untuk tip. Itu tip tapi Jv
maksa bgt mintanya. Mana saya tau klo kita harus ngasih tip. Kayaknya
budaya tipping udah lumrah hingga setaraf wajib di negara ini.
Hoho..(belakangan ternyata mbak Youwen dan Bang Huanza ikutan Manila
Tour yang sama dan bayar 1000 peso. What?! Iya, 1000 peso *nangis darah
sambil ngiris2 hati-ironi bgt*. Sejak saat itu, saya menanamkan dalam
diri untuk senantiasa bersyukur. Dalam kondisi apapun itu).
Masuk
ke dalam museum yang terdiri dari beberapa lantai sukses buat saya
kehilangan kontrol sebagai wanita yang senantiasa anggun dan terkenal
kalem. Hueeek.. *abaikan kata2 barusan*
Namanya juga museum,
macam2 isinya. Mulai dari hal2 yang berkaitan dgn gajah (saya ngga tau
kenapa harus gajah yang byk dipampang di museum ini), rumah khas
Filipino, guci dan piring kuno, herbarium, meriam, hewan yang sudah
diawetkan, bermacam permainan rakyat dan baju tradisional, hingga ada
Islamic Gallery yang isinya tentang Islam khususnya bagaimana Islam di
Filipina (biasanya byk muslim di daerah selatan Filipina. Tempat Abu
Sayyaf itu loh. Tapi ada juga sih muslim di Manila dan sekitarnya,
misalnya aja kayak bapak2 yang jualan souvenir pas di Canoe Beach
Resort). Jadi, kita yang udh amat rindu dengan suara adzan ini, excited
ketemu kitab Al-Qur'an dan replika mushalla di museum itu. Hehe..
Keluar
dari museum, kita berjalan kaki beberapa ratus kilometer hingga menaiki
Jeepney dan sampai di Mall of Asia (katanya Mall terbesar se-Asia.
Dulu. Sekarang dgr2 udah ada yang lebih gede lagi). Niat hati pengen
makan siang, saya dan Joni yang memasuki restoran Indonesia di Mall
tersebut terpaksa melangkahkan kaki keluar lagi. Meski pepes ikan dan
sate udh manggil2, uang yang ada tidak mencukupi (wajar aja, harganya
selangit euy!).
Jam sudah menunjukkan pukul setengah
dua siang. Takut terlambat check-in, kami berpamitan pada yang lain dan
bergegas menuju bandara Ninoy Aquino. Diantarkan dan dicarikan taxi
dengan budget yang pas (150 peso = hasil patungan), juga dinaikkan
koper2 saya oleh Sasha (muslimah Filipina), kami sampai juga di bandara.
Disini ada yang menarik nih. Beda dgn di Indonesia, biasanya driver
akan dengan senang hati menaikkan dan menurunkan barang2 penumpangnya.
Tapi klo dsini kayaknya ngga berlaku yang kayak gtu. Naikkan turunkan
barang, ya harus dilakukan penumpang.
Disambut dengan
antrian yang meleret panjang diluar bandara, membuat seorang Joni
bertanya ke stranger, apakah kita bisa memasuki bandara tanpa
berlelah-lelah mengantre disitu. Ternyata, antrian untuk passanger
Air-Asia bukan yang itu. Langsung masuk bandara, check in, dan jalan
kaki sampai ruang tunggu paling ujung. Hmm masih ada beberapa jam lagi
sebelum keberangkatan. Dengan uang (hasil palakan ke Joni), saya dengan
riangnya bolak-balik supermarket bandara. Beli snack, beli minuman C2,
beli Yakult, sambil cuci2 matalah..
Yak. Setelah pindah gate (yang diketahui lewat announcer bandara), saya menaiki pesawat dan tidur selama didalamnya.
"Atensen
tuan tuan dan puan puan semue.. kite dah nak tiba di KLIA 2 (Kuala
Lumpur National Airport 2).........Tetap pasangkan tali keledar anda
semasa pesawat sedang beroperasi".
Tiba di bandara
KLIA 2 sekitar pukul 9 malam, saya jalan2 disana. Makan di KFC (karena
lapar badaaai), ditambah dengan beli pretzel dan chocolate dip-nya yang
enaaak bgt, pergi ke money changer demi bisa beli novel Malaysia, beli
oleh2 khas Malaysia di supermarket bandara (lucunya, pas di kasir, itu
barang ternyata harganya mahaal. Accident ini. Joni yang ngga cek teliti
harga yang tertera dibelakang barang jadi harus keluar uang lebih byk),
lalu coba2 check in online dengan mesin yang berjejer disana tapi
endingnya takut bereksperimen dengan mesin itu sendiri. LOL.
Sip.
Esoknya pukul 7 pagi, sebelum brangkat, kami isi perut di KFC (lagi).
Saya pesan twister dan Joni makan bubur (yang bisa ditebak : tidak
dihabiskan). Sebelum berangkat dari bandara KLIA, saya nyempatin diri
belanja ke KK (brand suatu supermarket) untuk beli mineral water dan
lollipop *ngga penting untuk diceritain sih, tapi suka2 saya dong*
Landing di bandara Sultan Syarif Kasim II...
alhamdullillaaah... selamat jugaa tiba di Pekanbaru. Berjuta syukur dan kelegaan melingkupi hati kala itu.
Nah,
ketika mau keluar bandara, praktis tas saya dicegat petugas untuk cek
kesamaan kode di tas dan di boarding pass. Yang buat saya shock, kedua
kodenya tak sama! Panik sebenarnya, tapi ngga ada pilihan lain kecuali
mengecek kembali map pink saya. Eh ternyata saya salah kasih boarding
pass. Hahaha...
Sempat berasa anak hilang karena
keluarga saya ngga keliatan di bandara (belum lagi Joni yang ntah
kemana), saya ketemu dgn sepupu Joni dan minjem hp nya karena hp saya
habis baterainya. Setelah nelpon ibu, saya jd tau ternyata honda di rmh (sialnya) lagi rusak dan at
the end dgn bahagianya saya pulang ke rumah menggunakan taxi (sambil di
jalan ngobrol tentang Filipina dengan supirnya. Wkwkwk).
"Assalamu'alaikum", ucap saya...
"Wa'alaikumsalaam.." seorang wanita keluar dari rumah.